Dalam
apa yang dikenal sebagai Pembelajaran berdiferensiasi, dibutuhkan kemampuan pemahaman
berkadar lebih dari seorang guru terhadap profil murid. Dan juga kemampuan memahami
tentang bagaimana seorang guru memetakan kemampuan murid sesuai bakat dan minat
mereka. Hal ini menjadikan seorang guru “dituntut” untuk dapat lebih mendalam
mengenal murid secara emosional.
Oleh
karena itu, dalam penerapannya, saat berada dalam ranah pembelajaran , guru
juga tentunya diharapkan dapat menerapkan kompetensi-kompetensi yang terdapat
dalam Pembelajaran Sosial Emosional dengan baik. Hal ini dapat dilihat misalnya
jika murid tidak mengerjakan tugas dengan layak, maka guru tidak langsung marah
dan menjustifikasi murid tersebut malas atau dengan istilah lain. Namun guru
dapat menerapkan kompetensi empati dan mengendalikan diri. Dengan pengenalan
profil kemampuan murid, guru dapat menerapkan dengan memupuk sikap empati
melalui cara mendengarkan alasan murid tersebut. Sebab mungkin saja murid atau
murid tersebut, karena banyak tugas beban rumah tangga orang tuanya, menjadi
tidak punya waktu. Atau mungkin si murid kelelahan akibat asupan pangan yang
kurang memadahi. Dari alasan-alasan tersebut maka guru juga bisa menerapkan
kompetensi pengambilan keputusan secara bertanggung jawab sesuai dengan alasan
yang telah di kemukakan murid tersebut.
Sikap
dan tindakan guru yang sedemikian, juga sejalan dengan konsep Pembelajaran
Berdiferensiasi, yakni pembelajaran yang memberi keleluasaan
pada murid untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi tidak
hanya berfokus pada produk pembelajaran,
tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Keterkaitan antara konsep Pembelajaran
Sosial Emosional dan Pembelajaran Berdiferensiasi terletak pada bagaimana guru
memetakan profil belajar murid untuk kemudian melakukan tindakan terukur
berdasarkan parameter sosial dan ekonomi.
Dengan
mengaitkan konsep PSE dan Pembelajaran Berdiferensiasi maka guru lebih bijak
dan bijaksana dalam mengelola murid dan kelas sehingga akan tercipta hubungan
yang lebih harmonis. Diharapkan murid juga akan senang dalam belajar karena
mempunyai guru yang bijaksana. Keputusan yang bijak akan membuat anak nyaman
karena merasa diberikan konsekuensi yang seimbang dan tidak berlebihan. Akan
sangat gawat dan serius dampak kejiwaannya, jika seorang guru tidak mempunyai
profil murid dan tidak memahami murid.Si Guru pasti akan lebih mengedepankan
emosi diri daripada menerapkan rasa empati kepada murid.
Keterkaitan atau konjungtifitas diferensiasi dan sosial emosional akan makin nampak ketika semuanya diterapkan dalam sesi belajar mengajar. Mengenai Pembelajaran Sosial dan Emosional sebenarnya sudah melekat pada setiap kegiatan aktifitas belajar mengajar dan kehidupan sosial disekolah, Penerapannya lebih susah terjadi pada saat kegiatan pemberian materi oleh guru didalam kelas. Sebab, sebetulnya, tanpa disadari, sudah banyak yang telah dilakukan seorang guru untuk menerapkan kompetensi ini. Guru haruslah menyadari dan konsisten untuk menerapkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) sebagai bagian dari proses pembelajaran. Agar seluruh proses kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat dimaknai dalam keadaan berkesadaran penuh (mindfulness), sehingga apa yang terjadi didalam kelas dapat disadari dan dimaknai sebagai bagian untuk mengontrol sikap sosial dan emosional setiap individu baik guru maupun murid. Kontrol sikap dan emosional sangat berperan penting dalam keberhasilan learning process. Maka oleh itu, sejak penyusunan RPP, kompetensi sosial emosional dan mindfullnes sudah seharusnya termaktub sebagai bagian yang integral.




.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)