Minggu, 14 November 2021

TEMPIAS BAYANG UNTUK BERGERAK MAJU

 


Menjadi Guru penggerak, tak sekedar bergerak dan/atau menggerakkan. Guru Penggerak adalah sebuah sebuah Professional Profiler. Kiat memprofilkan diri, untuk dapat beradaptasi dengan nilai dan norma yang tumbuh dan berkembang dalam ranah yang dinamis. Maka, sudah tentu, kebutuhan untuk refleksi adalah sesuatu yang tawarannya adalah nol. Refleksi adalah tempias. Percikan bayang saat bercermin pada mata air semua pengetahuan yang diperlukan. Semburatnya adalah pedoman melangkah, yang tentu, untuk terus bergerak dan menggerakkan..

Cerminan pertama tentu saja adalah upaya memahami tata nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah laku sehari-hari, maka rasanya penting bagi seorang Guru Penggerak untuk bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang Guru Penggerak.Adapun Kelima nilai dari Guru Penggerak adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid.

Tata nilai yang adalah sebuah standar akan mengerucut pada muara penerapannya yakni pada Peran Guru Penggerak. Peran sebagai muara tata nilai seorang Guru Penggerak, sejatinya adalah manifestasi praktis kelima tata nilai. Mandiri, dalam artian Guru Penggerak mampu berusaha dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada dan bukan One Man Show. Reflektif, selalu mengkaji dengan kritis tentang pencapaian dan langkah ke depan. Kolaboratif, kemampuan menjalin kerjasama lintas bidang yang sepertinya sudah menjadi satu keharusan di era sekarang yang sedemikian kompleks. Seorang Guru Penggerak juga dituntut memiliki kemampuan berinovasi. Dalam artian melakukan terobosan “out of The Box” bagi keberhasilan peran dan fungsinya. Kesemuanya itu, disertai dengan dan selalu dalam koridor yang menempatkan murid sebagai poros utama sistem belajar mengajar.

Nilai dan Peran Guru Penggerak semestinya diletakkan pada Semesta Ranah pendidikan Nasional. Dan dalam hal ini, maka kita akan berbicara tentang Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD). Dan, memang, Nilai dan Peran Guru penggerak tidak saja memiliki keterkaitan dengan Filosofi KHD , melainkan dalam esensinya adalah api spirit dari Filosofi KHD itu sendiri. Nilai dan Peran GP adalah sebuah upaya. Agar Guru penggerak tetap kenyal dalam beradaptasi dengan jaman. Ini adalah prinsip pemikiran KHD. Juga, konsep murid sebagai poros utama adalah sebuah perwujudan adaptasi kultural. Agar lebih “mengIndonesia” dengan menempatkan murid dalam strata sebuah Padepokan. Secara sublim, nilai dan peran GP adalah juga perwujudan 3 pilar KHD. Ing Ngarso Sung Tulodo, diwujudkan dengan kemandirian dan sikap reflektif agar GP jika berada di depan tidak salah arah. Ing Madyo Mangun karso, diwujudkan dengan nilai dan peran kolaboratif dan inovatif. Agar GP jika berada di tengah tetap dapat menyemburatkan makna lintas ranah mata pelajaran dan memberi terobosan yang mengispirasi murid. Tut Wuri Handayani, diwujudkan dengan keberpihakan pada murid. Peran Guru Penggerak bukan lagi sosok sok pintar yang jual kecap di muka kelas, melainkan seperti punggawa dan pamong yang mendorong kemajuan murid.

Tata Nilai dan Peran GP dalam koridor konteks Filosofi KHD sudah tentu membutuhkan strategi penerapannya.  Bagi saya, hal ini dimulai dengan mengubah mindset, pola pikir. Bahwa Guru bukan lagi manusia sok tahu. Guru bukan lagi orang yang punya kuasa menjejalkan ilmu. Melainkan adalah sosok inspirator. Yang mampu mengispirasi dan menggerakkan. Perubahan mindset atau pola pikir ini harus dilaksanakan dengan kehati hatian agar tak melebar dan tetap fokus. Itulah pentingnya strategi reflektif. Strategi lainnya adalah upaya pendekatan dari hati ke hati kepada sebanyak mungkin murid. Tentu ini hal yang sangat merepotkan dan membutuhkan tenaga serta effort atau upaya dan tentu saja waktu yang sangat banyak. Namun, sudah tentu, tidak perlu total semua murid menjadi target pendekatan dari hati ke hati. Cukup jika kita mendapat gambaran utuh tentang lingkungan, adat dan budaya lokalnya.

 

Sudah tentu, segala perwujudan nilai dan peran dalam kaitannya dengan filosofi KHD membutuhkan interaksi lintas sektor mata pelajaran dan lintas sektor fungsional sekolah.Kepala Sekolah misalnya. Dapat membantu menyelesaikan semua hambatan birokrasi yang mungkin timbul akibat perubahan mindset. Guru Konseling, bisa membantu memberi gambaran lebih utuh tentang lingkungan, budaya dan kondisi tiap murid. Guru mata pelajaran lain dapat memberi pengayaan materi. Misalnya ppengetahuan tentang pranata sosial dan bahasa.

 

Nilai dan Peran Guru Penggerak adalah sebuah upaya seperti bercermin dalam mata air pengetahuan. Tempiasnya adalah semburat bekal bagi guru penggerak untuk terus maju bergerak dan menggerakkan murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASRI NAN MERINDU

  RINDU BERAT : RINdang teDUh BERsih Asri Tanpa sampah.Sebuah program terpadu tentang kebersihan lingkungan. Utamanya lingkungan sekolah. RI...