Pandangan , konsepsi dan pemikiran Ki Hajar Dewantara , dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Karena pengambilan keputusan mengandaikan kita bisa beradaptasi dengab luwes dimanapun kita berada. Sesuai dengan filosofi “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”.
Nilai-nilai
yang tertanam pada diri guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah penalaran
yang baik, menghargai kosep-konsep dan prinsip-prinsip etika. Dalam pengambilan
keputusan yang terbaik bagi kepentingan murid, seorang pendidik akan
mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui
bersama.
Coaching
dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membantu menemukan solusi atau
keputusan terbaik. Pertanyaan (guiding questions) diharapkan mampu mengarahkan
keputusan menjadi tepat. Ketika akan melakukan sebuah pengambilan keputusan,
melakukan uji benar lawan salah dan benar lawan benar, adalah upaya penentuan
parameter dan variabel keputusan itu sendiri.
Kemudian pengambilan keputusan sebagai uji parameter dan
variabel, diterapkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan.
1.
Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan
2.
Mempertimbangkan siapa yang terlibat
3.
Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
4.
Pengujian benar atau salah
*
Uji lega.
*
Uji regulasi.
*
Uji intuisi.
5.
Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
*
Individu lawan masyarakat (individual vs community)
*
Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
*
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
*
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
6.
Melakukan Prinsip Resolusi
*
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
*
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
*
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
7.
Investigasi Opsi Trilema
Kemampuan
guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya tentu juga akan
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran
ketika mengambil keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfulness)
dengan berbagai pilihan dan konskuensi yang ada. Untuk mengambil keputusan yang
bertanggung jawab diperlukan kompetensi kesadaran diri (Self awareness),
pengelolaan diri (Self management), kesadaran sosial (social awareness), dan
keterampilan hubungan social (relationship skills).
Nilai-nilai
atau prinsip-prinsip yang dianut seorang pendidik akan dijadikan dasar dan landasan
pemikiran dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika,
sehingga pada saat melaksanakan pembahasan studi kasus yang focus pada masalah
moral atau etika akan melihat dan mempertimbangkan nilai-nilai tersebut. Setiap
keputusan yang diambil akan ada konsekuensinya, oleh sebab itu setiap keputusan
perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan dan
berpihak pada murid.
Keputusan
yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid yang senantiasa menjadi tujuan
dan visi seorang guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran pada akhirnya akan
menciptakan sebuah lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman bagi
semua. Bila seorang pendidik selalu memiliki kepedulian dan keberpihakan pada
murid, maka dia akan melakukan apa saja agar sang murid dapat maju dan meraih
hal yang baik. Hal itu tentunya akan membuat murid-muridnya semakin merasa aman
dan nyaman dalam belajar dan menjadi pribadi unik yang Tuhan ciptakan, serta
lingkungan yang terbentuk akan saling mendukung serta kondusif.
Kesulitan-kesulitan dalam pengambilan keputusan, seringkali terletak pada paradigma masing masing pihak dalam memandang situasi tersebut. Bila pihak yang terlibat tidak memiliki cara pandang yang sama serta penekanan kepentingan yang selaras, maka akan sulit didapat titik temu terhadap sebuah keputusan yang baik. Bila semua dapat berkomunikasi dengan baik dan menyatukan pendapat mengenai paradigma yang akan dipakai dalam memutuskan sebuah permasalahan, maka kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat diatasi, atau minimal menjadi semakin ringan untuk diputuskan tanpa menimbulkan gesekan atau masalah di kemudian hari.
Sebagai
seorang pemimpin pembelajaran, gurulah yang paling bertanggung jawab dan
berperan menentukan pengajaran yang akan terjadi di dalam kelasnya. Oleh karena
itu, bila kita tidak mempraktikkan metode 9 langkah dalam pengambilan keputusan
atau mempertimbangkan secara matang segala aspek sosial, hukum dan lainnya
serta resiko serta dampak keputusan yang akan diambil tersebut maka kita dapat
saja tergoda untuk mengambil keputusan yang berupa bujukan moral atau bahkan
berpotensi merugikan murid-murid yang dipercayakan pada kita.
Tidak
dapat disangkak bahwa Murid adalah produk dari apa yang diajarkan
lingkungannya, dalam hal ini keluarga dan sekolah serta masyarakat lainnya
berperan membentuk karakter dan masa depan murid. Bila pengambilan keputusan
dilakukan secara tidak bertanggung jawab tanpa menimbang dampak yang dapat
terjadi pada murid sebagai akibat dari keputusan tersebut, tentunya akan
mempengaruhi kehidupan murid bahkan masa depan murid menjadi kurang baik.
Demikian
juga sebaliknya, keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kepentingan
murid dalam tumbuh dan kembangnya akan berpotensi membuat kehidupan serta masa
depan sang murid menjadi jauh lebih baik dan bahkan mereka dipersiapkan untuk
menyongsong masa depan yang baik.
.jpg)
.jpg)
.png)
.jpeg)


Keren Bu Tien
BalasHapus