Senin, 15 November 2021

WAKTU ADALAH TITIAN ILMU

 


Kalimat yang menjadi kepanjangan dari nama sendiri ini akhirnya benar-benar menjadi penyemangat dalam bekerja. Entah dari mana aku bisa menemukan kepanjangan dari namaku WATI. Waktu Adalah Titian Ilmu. Menjadi semboyan kala masih sekolah. Berharap bisa belajar setiap waktu untuk meraih cita-citaku. Entah ini yang namaya takdir atau apa, semboyan ini justru sangat cocok dengan pekerjaanku. Apalagi di era sekarang ini seperti yang disampaikan oleh Mendikbud, Nadiem Anwar  Makarim tentang belajar sepanjang hayat, menjadi klop dengan semboyan tadi. Demikian juga dengan kalimat Guru Pembelajar.

3 kalimat ini menjadi sangat berhubungan satu dengan yang lainnya. Sebagai seorang guru, belajar merupakan suatu keharusan. Belajar tidak hanya didapat dari guru, dosen, atau orang yang lebih tua dan berpengalaman. Bahkan belajar pun dapat kita lakukan dengan anak-anak/murid, alam sekitar serta pemanfaatan teknologi. Perkembangan teknologi yang begitu pesat menjadikan guru HARUS belajar. Menguasai IT adalah salah satu hal yang mendukung pekerjaan guru sekarang ini. Di masa pandemi, guru mau tidak mau, suka tidak suka, bisa tidak bisa, harus menggunakannya. Dari yang sederhana seperti berkirim SMS, Whatsapp maupun email, sampai pada pemanfaatan google classroom, microsoft 365 dan lain sebagainya.

Guru gaptek??? Kelaut aja deh. Ini benar-benar ungkapan yang seharusnya menjadi pemikiran dan pembuka mata guru yang “masih malas, enggan belajar”. Guru malas akan tergerus dengan perkembangan, guru malas akan merepotkan rekan guru yang lain, guru malas akan tertinggal, guru malas akan semakin merasa minder.

Masa pandemi ini juga membuat belajar menjadi sangat penting dan unik. Memahami IT adalah  salah satu materi yang harus dipelajari dimasa sekarang ini. Adanya kelas jarak jauh atau daring, membuat guru harus benar-benar memahami IT. Banyak yang dapat dilakukan disini. Membuat kelas melalui Google Classroom, Zoom, Google meet, dan Webex. Pembelajaran jarak jauh dengan cara ini membuat guru harus benar-benar memahami dan menguasai teknologi. Gawai atau Gadget, merupakan salah satu alat yang praktis digunakan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh.  Dengan gawai guru dapat berinteraksi dengan peserta didik dimana saja dan kapan saja. Terlepas dari kendala sinyal, kuota maupun spesifikasi gawai, cara ini pun harus dikuasai guru.

Sebelum pendemi, guru pun sebetulnya dituntut untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi, seperti menyelesaikan administrasi penilaian, presensi online. Bahkan administrasi gurupun hampir semua dikerjakan secara online. Membuat  power point untuk pembelajaran di kelas merupakan salah satu hal yang bisa menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan. Video pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi juga dapat dilakukan sendiri oleh guru. Lagi-lagi... guru dituntut untuk kreatif. Hal ini tidak bisa dlakukan manakala kita tidak menguasai teknologi.

Hal paling familier yang biasa kita lakukan dengan gawai seperti whatsapp pun, meski sudah sangat umum, namun tetap harus dipelajari secara seksama.Seperti membuat grup baru, pemanfaatan fitur-fitur yang ada, juga penggunaan tombol-tombol dalam aplikasi tersebut. Selain itu, menyimpan data, memindahkan data, penggunaan OTG flashdisk harus pula dipahami manakala ada data yang dikirim melalui WA tersebut. Mengunduh data, menyimpan dan memindahkan data tersebut untuk dikerjakan dengan laptop/komputer sampai pada proses pencetakan/print merupakan hal mudah bagi yang terbiasa melakukan. Bisa karena terbiasa, ini juga ungkapan yang sering kita dengar. Terbiasa bisa berarti belajar.

Nampaknya, sebagai guru, kita seyogyanya mengingat kalimat “tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang malas” seperti yang sering kita sendiri sampaikan kepada peserta didik. Kalimat tersebut dapat dimaknai, bahwa belajar sepanjang hayat dengan memanfaatkan waktu sebagai titian ilmu merupakan jalan menjadi guru pembelajar.

Minggu, 14 November 2021

TEMPIAS BAYANG UNTUK BERGERAK MAJU

 


Menjadi Guru penggerak, tak sekedar bergerak dan/atau menggerakkan. Guru Penggerak adalah sebuah sebuah Professional Profiler. Kiat memprofilkan diri, untuk dapat beradaptasi dengan nilai dan norma yang tumbuh dan berkembang dalam ranah yang dinamis. Maka, sudah tentu, kebutuhan untuk refleksi adalah sesuatu yang tawarannya adalah nol. Refleksi adalah tempias. Percikan bayang saat bercermin pada mata air semua pengetahuan yang diperlukan. Semburatnya adalah pedoman melangkah, yang tentu, untuk terus bergerak dan menggerakkan..

Cerminan pertama tentu saja adalah upaya memahami tata nilai dan peran sebagai Guru Penggerak. Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari, Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam kehidupan sehari-hari. Melihat peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah laku sehari-hari, maka rasanya penting bagi seorang Guru Penggerak untuk bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai dari seorang Guru Penggerak.Adapun Kelima nilai dari Guru Penggerak adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid.

Tata nilai yang adalah sebuah standar akan mengerucut pada muara penerapannya yakni pada Peran Guru Penggerak. Peran sebagai muara tata nilai seorang Guru Penggerak, sejatinya adalah manifestasi praktis kelima tata nilai. Mandiri, dalam artian Guru Penggerak mampu berusaha dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada dan bukan One Man Show. Reflektif, selalu mengkaji dengan kritis tentang pencapaian dan langkah ke depan. Kolaboratif, kemampuan menjalin kerjasama lintas bidang yang sepertinya sudah menjadi satu keharusan di era sekarang yang sedemikian kompleks. Seorang Guru Penggerak juga dituntut memiliki kemampuan berinovasi. Dalam artian melakukan terobosan “out of The Box” bagi keberhasilan peran dan fungsinya. Kesemuanya itu, disertai dengan dan selalu dalam koridor yang menempatkan murid sebagai poros utama sistem belajar mengajar.

Nilai dan Peran Guru Penggerak semestinya diletakkan pada Semesta Ranah pendidikan Nasional. Dan dalam hal ini, maka kita akan berbicara tentang Filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD). Dan, memang, Nilai dan Peran Guru penggerak tidak saja memiliki keterkaitan dengan Filosofi KHD , melainkan dalam esensinya adalah api spirit dari Filosofi KHD itu sendiri. Nilai dan Peran GP adalah sebuah upaya. Agar Guru penggerak tetap kenyal dalam beradaptasi dengan jaman. Ini adalah prinsip pemikiran KHD. Juga, konsep murid sebagai poros utama adalah sebuah perwujudan adaptasi kultural. Agar lebih “mengIndonesia” dengan menempatkan murid dalam strata sebuah Padepokan. Secara sublim, nilai dan peran GP adalah juga perwujudan 3 pilar KHD. Ing Ngarso Sung Tulodo, diwujudkan dengan kemandirian dan sikap reflektif agar GP jika berada di depan tidak salah arah. Ing Madyo Mangun karso, diwujudkan dengan nilai dan peran kolaboratif dan inovatif. Agar GP jika berada di tengah tetap dapat menyemburatkan makna lintas ranah mata pelajaran dan memberi terobosan yang mengispirasi murid. Tut Wuri Handayani, diwujudkan dengan keberpihakan pada murid. Peran Guru Penggerak bukan lagi sosok sok pintar yang jual kecap di muka kelas, melainkan seperti punggawa dan pamong yang mendorong kemajuan murid.

Tata Nilai dan Peran GP dalam koridor konteks Filosofi KHD sudah tentu membutuhkan strategi penerapannya.  Bagi saya, hal ini dimulai dengan mengubah mindset, pola pikir. Bahwa Guru bukan lagi manusia sok tahu. Guru bukan lagi orang yang punya kuasa menjejalkan ilmu. Melainkan adalah sosok inspirator. Yang mampu mengispirasi dan menggerakkan. Perubahan mindset atau pola pikir ini harus dilaksanakan dengan kehati hatian agar tak melebar dan tetap fokus. Itulah pentingnya strategi reflektif. Strategi lainnya adalah upaya pendekatan dari hati ke hati kepada sebanyak mungkin murid. Tentu ini hal yang sangat merepotkan dan membutuhkan tenaga serta effort atau upaya dan tentu saja waktu yang sangat banyak. Namun, sudah tentu, tidak perlu total semua murid menjadi target pendekatan dari hati ke hati. Cukup jika kita mendapat gambaran utuh tentang lingkungan, adat dan budaya lokalnya.

 

Sudah tentu, segala perwujudan nilai dan peran dalam kaitannya dengan filosofi KHD membutuhkan interaksi lintas sektor mata pelajaran dan lintas sektor fungsional sekolah.Kepala Sekolah misalnya. Dapat membantu menyelesaikan semua hambatan birokrasi yang mungkin timbul akibat perubahan mindset. Guru Konseling, bisa membantu memberi gambaran lebih utuh tentang lingkungan, budaya dan kondisi tiap murid. Guru mata pelajaran lain dapat memberi pengayaan materi. Misalnya ppengetahuan tentang pranata sosial dan bahasa.

 

Nilai dan Peran Guru Penggerak adalah sebuah upaya seperti bercermin dalam mata air pengetahuan. Tempiasnya adalah semburat bekal bagi guru penggerak untuk terus maju bergerak dan menggerakkan murid.

ASRI NAN MERINDU

  RINDU BERAT : RINdang teDUh BERsih Asri Tanpa sampah.Sebuah program terpadu tentang kebersihan lingkungan. Utamanya lingkungan sekolah. RI...