Senin, 21 Maret 2022

MERAJUT CITA RASA MERDEKA UNTUK INDONESIA MAJU

( Interkoneksi Materi Pendidikan Calon Guru Penggerak ) 



Siapapun pasti sudah memahami sekaligus memaklumi. Pandemi Covid 19 memporak porandakan semua sendi kehidupan. Luluh lantak bahkan nyaris hancur berkeping. Dan bencana sedemikian terjadi di seluruh dunia. Cara yang paling baik mengatasinya sebetulnya ada dua : Yakni Bertahan dalam segala daya upaya dalam Pandemi semacam ini. Dan menjadikan Pandemi Covid 19 malahan sebagai momentum perubahan untuk menuju ke arah yang lebih maju.

Opsi kedua itulah yang rupanya digagas dengan sangat cerdas dan terukur oleh Mendikbud Bapak Nadiem Anwar Makarim. Pandemi Covid 19 yang membuat dunia pendidikan tersendat, tak menentu, senantiasa harus mengantisipasi lonjakan Gelombang Covid 19, dengan sangat cerdas dan cermat malahan dijadikan momentum untuk membenahi dan bahkan merombak total paradigma dan Sistem Pendidikan Nasional. Dasar pemikirannya tentu bahwa paradigma kolot dan Sistem Pendidikan gaya konvnsional sudah tergagap dan malahan terkencing kencing menghadapi ketidakpastian Pandemi. Dunia butuh perubahan bagi generasinya. Indonesia butuh perubahan. Agar tak sekedar bertahan , namun tetap maju menggagas menuju Indonesia Maju. Diluncurkanlah konsep MERDEKA BELAJAR.


MERDEKA BELAJAR sebetulnya adalah konsepsi, paradigma, sekaligus Perombakan Sistem Pendidikan Nasional. Dasarnya adalah Filosofi tokoh Pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sejatinya, konsep dan filosofi seperti apa yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara? Yakni : Pendidikan yang menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada setiap anak. Bahwa tugas guru bukanlah memaksakan sesuatu kepada anak, melainkan menuntun potensi-potensi bawaan anak agar bertumbuh. Ki Hadjar berpendapat bahwa setiap anak dilahirkan umpama sehelai kertas yang sudah ditulisi dengan sketsa-sketsa yang masih buram. Dengan demikian, tugas pendidik adalah menebalkan segala tulisan buram yang berisi baik agar nampak sebagai budi pekerti yang baik.

Untuk menumbuhkan potensi-potensi dalam diri anak, proses pendidikan harus diberi kebebasan seluas-luasnya kepada anak dalam belajar tanpa pernah merasa tertekan dan takut melakukan kesalahan. Inilah yang kemudian diterjemahkan oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim sebagai MERDEKA BELAJAR. Secara konseptual, Ki Hadjar Dewantara sependapat dengan para ahli pendidikan  seperti Maria Montessori, Helen Parkhurst, Rabinranath Tagore, hingga Paulo Freire. Secara singkat, konsepsi dan filosofi Ki hajar Dewantara, dirumuskan dalam apa yang dikenal sebagai TRILOGI KHD. ING NGARSO SUNG TULODHO. ING MADYO MANGUNKARSO. TUT WURI HANDAYANI.

 


Dalam melaksanakan MERDEKA BELAJAR, yang adalah kristalisasi filosofi KHD, tentu harus dilakukan perombakan Paradigma pendidikan. Poros sistem pendidikan nasional tak lagi guru. Melainkan murid. Untuk itulah kemudian dicanangkan apa yang kemudian dikenal sebagai GURU PENGGERAK. 

 

Peran guru penggerak ada lima yakni: menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Guru penggerak berfokus pada peran kepemimpinan pembelajaran agar mampu mendorong tumbuh kembangnya peserta didik secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Dalam memerankan perannya tetap berpijak pada 5 (lima) nilai guru penggerak yakni berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif.

 Dikarenakan Paradigma nya berubah, Sistemnya terombak total, poros nya berubah, tentu metodologinya akan berubah dan memang harus berubah. Salah satu metode pembelajaran dalam ranah Guru Penggerak adalah PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI. Diferensiasi berarti BERBEDA dan/ atau terbedakan. Lalu, apa yang berbeda dan/ atau terbedakan. Pembelajaran berdiferensiasi dalam esensinya, adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut.

Pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan konten/materi. Dan, Metode ini dapat diterapkan hampir pada semua mata pelajaran.

 Dengan Metode Pembelajaran Berdiferensiasi, dapat dikatakan bahwa para murid tak lagi sebagai sasaran untuk dicekoki materi bahan ajar secara terus menerus. Melainkan murid akan terdiferensiasi berdasarkan potensi bawaannya. Paradigma ini perlu dikukuhkan dan didukung metodologi lainnya. Sebagaimana filosofi KHD yang memandang murid sebagai sebuah sosok manusia multi dimensional. Metodologi yang mendukung proses diferensiasi, dikenal sebagai SOSIAL EMOSIONAL.

 

 Pembelajaran sosial dan emosional  berbasis pada kesadaran penuh. Dan  merupakan upaya untuk menciptakan ekosistem sekolah yang mendorong bertumbuhnya budi pekerti, di samping sis intelektual tentunya. Melalui pembelajaran sosial dan emosional ini, murid diajak untuk menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami sejumlah pengalaman yang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif.

Terdapat lima kompetensi kunci dalam pengembangan pembelajaran soial dan emosional menurut Daniel Goleman (1995), yakni kesadaran diri (self awareness), manajemen diri (self mangament), kesadaran sosial (social awareness), kemampuan berelasi (relationship), dan pembuatan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making). Semuanya sangat penting dalam pengembangan kemampuan mengontrol diri, sejak mengidentifikasi masalah, menganalisi permasalahan, mengevaluasi, merefleksi, dan tanggung jawab yang etis.

 Dapat dikatakan pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASRI NAN MERINDU

  RINDU BERAT : RINdang teDUh BERsih Asri Tanpa sampah.Sebuah program terpadu tentang kebersihan lingkungan. Utamanya lingkungan sekolah. RI...