( Interkoneksi Materi Pendidikan Calon Guru Penggerak )
Opsi kedua itulah yang rupanya digagas
dengan sangat cerdas dan terukur oleh Mendikbud Bapak Nadiem Anwar Makarim.
Pandemi Covid 19 yang membuat dunia pendidikan tersendat, tak menentu,
senantiasa harus mengantisipasi lonjakan Gelombang Covid 19, dengan sangat
cerdas dan cermat malahan dijadikan momentum untuk membenahi dan bahkan
merombak total paradigma dan Sistem Pendidikan Nasional. Dasar pemikirannya
tentu bahwa paradigma kolot dan Sistem Pendidikan gaya konvnsional sudah
tergagap dan malahan terkencing kencing menghadapi ketidakpastian Pandemi.
Dunia butuh perubahan bagi generasinya. Indonesia butuh perubahan. Agar tak
sekedar bertahan , namun tetap maju menggagas menuju Indonesia Maju.
Diluncurkanlah konsep MERDEKA BELAJAR.
Untuk menumbuhkan potensi-potensi dalam
diri anak, proses pendidikan harus diberi kebebasan seluas-luasnya kepada anak
dalam belajar tanpa pernah merasa tertekan dan takut melakukan kesalahan. Inilah
yang kemudian diterjemahkan oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim sebagai MERDEKA
BELAJAR. Secara konseptual, Ki Hadjar Dewantara sependapat dengan para ahli
pendidikan seperti Maria Montessori,
Helen Parkhurst, Rabinranath Tagore, hingga Paulo Freire. Secara singkat,
konsepsi dan filosofi Ki hajar Dewantara, dirumuskan dalam apa yang dikenal
sebagai TRILOGI KHD. ING NGARSO SUNG TULODHO. ING MADYO MANGUNKARSO. TUT WURI
HANDAYANI.
Dalam
melaksanakan MERDEKA BELAJAR, yang adalah kristalisasi filosofi KHD, tentu
harus dilakukan perombakan Paradigma pendidikan. Poros sistem pendidikan
nasional tak lagi guru. Melainkan murid. Untuk itulah kemudian dicanangkan apa
yang kemudian dikenal sebagai GURU PENGGERAK.
Peran guru penggerak ada lima yakni: menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru, menjadi coach bagi guru lain, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Guru penggerak berfokus pada peran kepemimpinan pembelajaran agar mampu mendorong tumbuh kembangnya peserta didik secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Dalam memerankan perannya tetap berpijak pada 5 (lima) nilai guru penggerak yakni berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif dan inovatif.
Dikarenakan Paradigma nya berubah, Sistemnya terombak total, poros nya berubah, tentu metodologinya akan berubah dan memang harus berubah. Salah satu metode pembelajaran dalam ranah Guru Penggerak adalah PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI. Diferensiasi berarti BERBEDA dan/ atau terbedakan. Lalu, apa yang berbeda dan/ atau terbedakan. Pembelajaran berdiferensiasi dalam esensinya, adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut.
Pembelajaran
berdiferensiasi tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus
pada proses dan konten/materi. Dan, Metode ini dapat diterapkan hampir pada
semua mata pelajaran.
Dengan Metode Pembelajaran Berdiferensiasi, dapat dikatakan bahwa para murid tak lagi sebagai sasaran untuk dicekoki materi bahan ajar secara terus menerus. Melainkan murid akan terdiferensiasi berdasarkan potensi bawaannya. Paradigma ini perlu dikukuhkan dan didukung metodologi lainnya. Sebagaimana filosofi KHD yang memandang murid sebagai sebuah sosok manusia multi dimensional. Metodologi yang mendukung proses diferensiasi, dikenal sebagai SOSIAL EMOSIONAL.
Pembelajaran
sosial dan emosional berbasis pada kesadaran
penuh. Dan merupakan upaya untuk
menciptakan ekosistem sekolah yang mendorong bertumbuhnya budi pekerti, di
samping sis intelektual tentunya. Melalui pembelajaran sosial dan emosional
ini, murid diajak untuk menyadari, melihat, mendengarkan, merasakan, mengalami
sejumlah pengalaman yang dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan
sikap positif.
Dapat dikatakan pembelajaran sosial dan emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah, yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.
.jpg)

.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar