Jumat, 04 Maret 2022

Pembelajaran Berdiferensiasi

 

A. Beberapa definisi tentang pembelajaran berdiferensiasi

 

1.      Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

 

2.      Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

 

3.      PB merupakan proses siklus mencari tahu tentang siswa dan merespons belajarnya berdaarkan perbedaan. Ketika guru terus belajar tentang keberagaman siswanya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud. PB merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan siswa agar tercapai peningkatan hasil belajar. PB bukanlah pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang independen. (Dr. Marlina, S.Pd., M.Si)


 B. Ilustrasi Situasional

 Ketika seorang guru memasuki ruang kelasnya, seyogyanya ia akan :

 Mengingat murid-muridnya satu persatu. Bagaimana karakteristik murid-muridnya?

 Bagaimana gaya belajar muridnya? Apa minat mereka? Apa kekuatan yang mereka miliki? Siapa yang suka menggambar? Siapa yang suka menulis? Siapa yang suka menyanyi? Siapa yang suka menari? Siapa yang suka musik? Siapa yang suka berbicara? Tanpa disadari setiap hari guru akan berhadapan dengan murid dengan beragam keunikan, tingkah, sifat, keberagaman yang banyak sekali bentuknya dan guru dihadapkan pada tantangan yang beragam secara terus menerus sehingga harus melakukan atau memutuskan banyak hal dalam satu waktu. Hal ini sering tidak disadari oleh seorang guru dalam menghadapi berbagai tantangan yang tentu saja tujuannya adalah setiap murid sukses dalam pembalajarannya

C. Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

 Pembelajaran Berdiferensiasi haruslah berakar pada pemenuhan kebutuhan belajar murid dan bagaimana merespon kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan murid yang berbeda inilah yang membuat guru harus jeli dalam pembelajaran sehingga terpenuhi kebutuhan setiap muridnya.

 Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain atau bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak.

 Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, dimana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan yang berorientasi pada kebutuhan murid dimana keputusan yang dibuat terkait dengan :

 1.  Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan jelas baik dari sisi guru maupun murid.

2.    Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar  muridya. Bagaimana ian akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

3.    Bagaiman mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang” murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar ynag tinggi. Kemudian jufa memastikan setiap murid dikelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka disepanjang prosesnya.

4.     Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas, struktur yang jelas sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

5.  Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan untuk dapat menentukan murid yang masih tertinggal atau sebaliknya murid yang lebih dahulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

D. Memetakan kebutuhan murid

      Kebutuhan murid dapat dikategorikan atas 3 aspek yakni :

 a.       Kesiapan belajar murid

Kesiapan belajar murid adalah kapasitas untuk mempelajarai materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyamannya, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.

 b.      Minat murid

Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada suatu situasi atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri. Tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat diantaranya sebagai berikut :

- Membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar.

- Mendemonstrasikan keterhubungan antara semua pembelajaran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ASRI NAN MERINDU

  RINDU BERAT : RINdang teDUh BERsih Asri Tanpa sampah.Sebuah program terpadu tentang kebersihan lingkungan. Utamanya lingkungan sekolah. RI...